Oleh M. Abdullah Badri
ORANG Karimunjawa tidak banyak mengenal Ki Joko Tirto maupun istrinya, Nyi Jijah. Tahun 2016, saya pernah ziarah diantar seseorang ke lokasinya, yang tidak terawat hingga kini. Juru kuncinya sekarang adalah Pak Margono.
Ki Joko Tirto adalah seorang pelaut yang sering kulakan ikan tawar ke Datuk Subuh di Sidigede, yang laku keras dijual di Karimunjawa. Ayahnya bernama Jumeneng, asli Demaan. Istrinya bernama Nyai Azizah binti Kiai Hasan Mahfudh, Mlonggo.
Mereka menikah setelah dipacukno oleh Kiai Jaka Samudra, yang makamnya ada di Cumbring. Dia adalah sahabat karib Hasan Mahfudh, ayah Nyai Azizah maupun Jumeneng, ayah Joko Tirto.
Awal keduanya hijrah ke Karimunjawa bukan untuk dakwah. Tapi untuk mencari pengalaman hidup saja. Namun, setelah mukim beberapa lama, pasutri itu ternyata menemukan kenyamanan hidup di pulau yang dulu dihuni banyak warga Madura yang beragama Hindu-Buddha.
Orang Madura lah yang pertama kali membuat tradisi Pendok jelang pernikahan. Suatu kali, warga Madura mengalami gesekan sosial dengan orang-orang Tiongkok yang juga banyak menghuni Karimunjawa. Orang Tiongkok kemudian pindah ke Singkawang, Pontianak dan sekitarnya.
Bukti adanya penduduk Tiongkok di Karimunjawa adalah banyaknya makam ala Cina yang tenggelam di dasar laut akibat pendangkalan pantai.
Kedua pasutri Joko Tirto dan Nyi Jijah sempat memuallafkan banyak warga Karimunjawa. Joko Tirto mendapatkan banyak ilmu agama dari Datuk Subuh dan Datuk Jokosari Ngabul.
Ki Joko Tirto wafat pada Selasa waktu Lintang Alang-Alang Bulan Rajab. Sementara itu, Nyi Jijah wafat malam Jumat waktu Lintang Jagasatru Bulan Syawwal. Jika Anda tidak paham tentang penanda waktu tersebut, berarti sama dengan saya. Haha.
Kisah keduanya alhamudlillah sudah saya tulis di Buku "Jejak Kisah Datuk Jokosari" dan Buku "Kisah dan Jejak Wali di Jepara". Wallahu a'lam.[]
